Lamupiku❤

thank You, Christ!
@lamupiku
Me: kok kamu seneng banget?
Him: enggaaaak, biasa ajaaa...
Me: itu senyum-senyum sendiri?
Him: hee, siapa yang ga seneng mau ketemu kamu?
o(- ^ , ^-)o

A LIFE TO TRUST

-untuk hati yang pernah terluka-

Aku tulis ini untuk mendefinisikan ulang PERASAAN.

Wahai pujangga, kau kata,

“ Bagaikan sejuknya embun musim semi yang mengalir di gugus-gugus daun;

bagaikan belaian matahari musim panas dengan cahayanya, hangat;

bagaikan tangisan daun-daun yang berjatuhan: sapaan dari musim gugur;

bagaikan kristal-kristal salju yang menghampar karena musim dingin;

demikianlah,

                           aliran perasaan itu.”

Tetapi aku menolaknya! Keras dan tegas!

Sesungguhnya, engkau tidak mengerti akan hati manusia.

Engkau lukiskan setiap senyuman,

                 patrikan setiap belaian,

                 artikan setiap cinta, dan

                 ingatkan setiap air mata,

Tetapi engkau tertawa akan setiap hati yang merindukan bintang jatuh:

engkau TIDAK MAU mengalaminya.

Pikirmu, “Pengalaman orang lain sudah cukup bagiku,

                     biarlah hatiku dihindarkan dari setiap luka dan goresan.”

Engkau mengagungkan cinta, tapi engkau lari dari pintu gerbangnya.

Mengapa? – Mungkinkah karena engkau tahu, bahwa

setiap cinta akan memiliki canda tawa dan TANGIS YANG LEMBUT,

setiap kasih pasti memiliki pelukan sayang dan PENOLAKAN,

setiap rasa harus memiliki kebersamaan dan PERPISAHAN?

Karena engkau benci ketergantungan akan orang lain.

Walaupun cinta telah menggapai jauh ke dalam jiwamu.

Ya; engkau TIDAK MAU.

Engkau telah memilih.

Mengapa aku merasa sakit saat Kahlil Gibran berujar,

“Let there be spaces in your togetherness…” –

dan aku teringat kepada mereka yang LARI

Tidak, bukan lari, tetapi PERGI – membawa sekeping hatiku.

Dan yang tersisa hanyalah kerinduan yang tulus,

Sang penggerak yang tidak lagi digerakkan oleh kehendak.

Dan air mata pun mengalirlah…

Lihatlah ke langit sana!

Apa yang engkau harapkan untuk datang?

Di waktu panas memanggil kekeringan,

        kau harap adanya segumpal awan yang menjanji curahan mulia.

Di waktu malam, tanpa adanya bintang yang berkedip,

        kau harap adanya selimut gemerlap, juga jatuhnya satu cahaya bagimu.

Aku hanya ingin menyatakan demi diriku,

ada harapan yang tersisa, meskipun tirai waktu menjumpa perjumpaan.

Karena itulah, aku sebut

WAKTU itu TIRANI dan JARAK itu JURANG!

Mereka ADA tanpa diharapkan, terus mengingatkan akan batasan dan peraturan yang mereka buat tanpa persetujuan manusia.

Aku marah, karena ke-ADA-an keduanya. Karena ADA.

Tapi kembali rasa sepi menyapa,

dan kesunyian memenuhi lorong-lorong hati yang ditinggalkan.

Aku berdiri di balkon perasaanku, MENATAP LANGIT.

Sahabatku adalah penaku dan kertas putih,

yang membuatku mengisikan hatiku pada kekosongan lembaran ini.

Sementara sahabatku, belahan jiwaku,

tidakkah mereka mendengar aku memanggil-manggil?

Rasanya dingin di sini.

Hari ini terasa panjang,

                detik ini terasa kacau.

Mengapa sentuhan dedaunan terdengar jelas,

                sementara suaramu menghilang perlahan?

Dan mengapa saat engkau hilang,

                dunia serasa tenggelam tanpa suara?

Kelam.

                Gelap.

Dan engkau hanya bisa tertawa!

Ingin kututup telingaku atau kuteriakkan kata-kata semu

untuk menahanku mendengar tawamu – aku KESAL!

Tidakkah engkau mengerti?

SEKALI SAJA.

Lalu katakan, apa yang membuatku bertahan?

JANJI – akan sukacita pertemuan kembali.

Dan aku terpesona

                                         akan kekuatan JANJI,

karena ketika aku telusuri jejak di hati,

kutemukan,

                             SHIN.

Engkau melihatnya di mana-mana – dimanapun,

tetapi ketika engkau mencarinya,

ia melesap ke dalam hati manusia,

tidak untuk ditemukan,

                                                   tapi DIRASAKAN.

Arti: percaya. Kepercayaan.

TRUST, bukan believe.

Karena aku percaya kepada mereka yang mencari.

Carilah di setiap hati yang hancur karena cinta, dan

rasakan ia dalam tunas harapan dari tunggul yang tersisa.

Ia bukanlah elegi, melainkan saga:

epos hidup yang menceritakan cinta dan integritasnya.

Sekarang engkau boleh tertawa, karena aku juga.

HUJAN YANG MENYEJUKAN.

Kerikil-kerikil tajam hanyut terbawa;

batu-batu besar terkikis hancur, tertembus;

akar-akar mencium tetesan air yang membawa hidup;

dan,

           pengharapan itu kembali dalam hatiku.

Pujangga, aku jelaskan perasaan padamu,

bukan karena pikiranku telah berpuisi sepertimu,

melainkan karena aku mengalaminya. Perasaanku.

“Perasaan bukanlah untuk dipermainkan dalam kalimat, maupun untuk diamati. Perasaaan adalah apa yang timbul dari dalam jiwa: indah, terkadang menyakitkan. Manis, tapi penuh kekecewaan. Dua sisi ini haruslah kauingat, agar kau mampu bangkit saat engkau merasa. Bukan kasih yang semu, melainkan cinta yang abadi. Mengalir tanpa bisa engkau cegah. Tetapi pada mulanya engkau harus percaya. SHIN.”

Sudahkah engkau mengerti?

Perasaan itu tidak terdefinisikan.

Alunan piano itu mengalun lembut mengiringi detakan hatimu,

jika kau biarkan perasaanmu.

DIAMLAH,

dengarkan suara hatimu mengatakan bentuk perasaanmu.

Ceritakan padaku, saat-saat itu,

menit-menit engkau kembangkan sayap-sayap jiwamu, dan

TERBANG.

Kini engkau tahu semuanya:

rasa rinduku – saat jiwaku tersungkur di kaki kehadiranmu,

rasa sedihku – saat kenangan menghimpit menyisakan celah untuk air mata,

rasa sukaku – saat senyuman tercipta oleh momentum hati,

rasa cintaku – saat hati terbuka dan perasaan meluap: ekspresi.

Semuanya, dan satu ini:

bahwa sang pujangga adalah AKU.

Sudah cukup mulutku berbicara,

sudah cukup tanganku menulis,

sudah cukup jiwaku berpikir,

karena apa yang tertulis telah kujalani untuk satu tujuan: keutuhan.

“For happiness was born a twin. And also love.”

Kali ini engkau bebas menjerit dan engkau boleh tersenyum, karena belenggu telah terlepaskan dan ikatan telah terbuka. Bahwa hidup itu adalah untuk cinta sementara engkau belajar membiarkan dirimu untuk dicintai. Untuk mengenal, sebagaimana engkau dikenal. Bahwa engkau bisa TERBANG.

Hidup adalah paradoks cinta.

The beginning,

     信

SHIN seven ∙

P.S.: Seven is perfection.

           So it is: the perfect SHIN

God is a champion of risk. And this God – our God – risked all He loved by giving us the right to choose. This risk even touched His own beloved Son, who risked and believed. Laying your life down, naked, on a rough piece of tree only to have those you love hammer you with insults and nine-inch nails requires great belief. And love. Perfect Love.

Pempek Gloria

Pempek Gloria

Tuna Sundwich :* tengkyu Chef Aduy!

Tuna Sundwich :* tengkyu Chef Aduy!

Martabak Manis 1/2 Keju 1/2 Campur Mikimos

Martabak Manis 1/2 Keju 1/2 Campur Mikimos

Love

Love